Laman

Author Profile

1   comments




Identitas :


Nama : Bangkit Wiguna
Kelas : XI D
Jurusan : Teknik Komputer & Jaringan ( TKJ )
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat/ Tgl Lahir : Jakarta, 20-Mei-1998
Status : -
Alamat : Jl.Karang Rejo Komp.Citra Bhayangkara Blok E No 19 Banjarbaru Kal-Sel
No. Telp : 087814874535
Agama : Islam

Data Keluarga :


Nama Ayah : Djunarko
Nama Ibu : Anita Prihatin
Pekerjaan Ayah : TNI-AD
Pekerjaan Ibu : Kepala Sekolah
Alamat : Jl.Karang Rejo Komp.Citra Bhayangkara Blok E No 19 Banjarbaru Kal-Sel

Apa itu Penyakit 3 M? Fakta Nomor 3 Akan Membuat Anda Tercengang....

0   comments


Cara pandang seseorang itu menentukan kualitas hidup seseorang, misalnya orang yang berangkat bekerja karena cara pandangnya dari pada nganggur dirumah pasti berbeda dengan orang yang berangkat bekerja demi menafkahi orang orang yang dicintainya.

Begitu pula akan berbeda orang yang berangkat bekerja karena ia ingin meninggalkan sesuatu yg berarti sebelum ia dimakamkan, dia ingin meninggalakn legacy didunia ini, kita pasti tau kira kira diantara 3 cara pandang ini. Mana yg dikemudian hari jauh lebih bermakna, jauh lebih bermartabat.

Sayangnya cara pandang ini sering dihalangi dengan hal hal negatif yg ada di dalam diri kita. oleh karena itu setidaknya kita perlu menjauhi 3 penyakit yg  disebut 3 M.
  1. Yang pertama kita terbiasa menyalahkan orang lain, apabila sesuatu menimpa kepada kita maka kemudian yangg pertama terpikir adalah bagimana menyalahkan orang lain, bagaimana kemudian orang lain menjadi tertuduh dan kita kelihatan suci. penyakit menyalahkan orang ini, penyakit menyalahkan pihak lain ini akan membuat cara pandang hidup kita selalu negatif, karena kita sibuk mencari kesalahan orang lain dibangingkan kita introspeksi terhadap perjalahnan hidup yg sudah kita jalani.
  2. Yang kedua adalah membandingkan, kita hidupnya membanding kan dengan si A dan si B padalah bisa jadi si A dan si B itu hebat karena ia fokus pada kekuatannya dan kita pasti akan tertinggal jika kita hidup hanya ingin sesuai dengan kekuatan si A atau si B, karena kita punya kekuatan sendiri maka kita perlu fokus pada kekuatan tanpa perlu membanding-bandingkan. Boleh membandingkan contohnya bagaimana kita hidup tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, bulan ini dengan bulan lalu sebagai instrospeksi, sebagai alat ukur apakah kehidupan kita sudah berkembang atau belum.
  3. Yang ketiga adalah membanggakan diri, orang orang yang sibuk membanggakan dirinya akhirnya justru ia tidak akan berbenah, yg muncul adalah kesombongan, merasa lebih dibandingkan orang lain dan akhir nya ia tidak mau menerima nasihat dari orang lain kemudian ia tidak mau menerima ilmu dari orang orang yg dianggapnya lebih rendah dibandingkan dirinya.
Maka kualitas hidup kita tergantung dengan cara pandang kita dan cara pandang hidup kita sendiri sebaiknya cara pandang yang positif, jauhi cara pandang negatif yaitu 3 M, jauhi penyakit ini maka anda akan mempunyai cara pandang yg berkualitas dan cara pandang yang berkelas.

Cara Mengatasi Penyakit 3M

Penyakit Malas
Karena malas, seseorang seringkali tidak produktif bahkan mengalami stag. Badan terasa lesu, semangat dan gairah menurun, ide pun tak mengalir. Akibatnya tidak ada kekuatan apapun yang membuat Anda bisa bekerja. Kalau dibiarkan saja, penyakit malas ini akan semakin ‘kronis’.

Menurut pakar psikologi, seseorang berperilaku malas terhadap pekerjaan atau suatu kegiatan disebabkan karena dia tidak memiliki motivasi yang kuat setiap kali mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu perlu adanya kiat atau cara mengatasi penyakit malas ini.

Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan disiplin diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas

Penyakit Menyalahkan Orang Lain
Menyalahkan orang lain adalah penyakit pertama yang lazim dimiliki banyak orang yang tidak sehat jiwanya. Penyakit ini disebutkan oleh para pakar sebagai pola pikir orang-orang primitif.

Di tengah masyarakat modern, bila mereka mengalami sesuatu yang mereka pikirkan pertama adalah apa penyebabnya, bukan siapa penyebabnya. Karena mereka selalu berpikir positif. Artinya tidak menyalahkan orang lain untuk semua masalah yang mereka derita.

Menyalahkan orang lain adalah sikap primitif. Anak-anak saja tidak mau disalahkan atas apa yang kita alami. Karena itu hindari menyalahkan orang lain. Namun berpikirlah bijak dan dewasa. Pikirkan apa penyebab dari masalah tersebut, bukan justru mencari orang untuk disalahkan.

Penyakit Membanggakan Diri Sendiri
Ada beberapa fator yang menyebabkan seseorang memiliki sifat ini, yaitu:
1. Banyak dipuji orang,  
Orang yang selalu dipuji baik itu fisik, perbuatan, atau karya yang ia lakukan pasti jika itu berlanjut akan menumpuk dan akan merasa bangga atas dirinya sendiri dan disitulah sifat ujub akan timbul. Kita harus mengetahui bahwa jika kita selalu mempercai pujian maka tunggulah kehancuran yang akan menjemputmu. Rosululloh pernah terkejut ketika melihat seseorang yang memuji orang lain secara langsung, sampai-sampai beliau bersabda, “Sungguh dengan pujianmu itu, engkau dapat membinasakan orang yang engkau puji. Jikalau ia mendengarnya, niscaya ia tidak akan sukses.”
2. Banyak meraih kesuksesan, 
orang yang selalu meraih kesuksesan akan dirasuki sifat ujub. ini disebabkan karena orang tersebut merasa dirinya mampu mengungguli orang lain dan mulai lupa bahwa semua itu adalah karena Allah SWT.
3. Kekuasaan, 
Kekuasan yang otoriter membuat sang penguasa tidak pernah salah dalam mengambil keputusan dan selalu mendapat pujian walau terpaksa, penguasa seperti itu di dalam hatinya akan terkandung sifat ujub. Seperti kisah Raja Namrud yang menyebut dirinya sebagai Tuhan, karena dia menjadi seorang penguasa. Dan seandainya di lemah dan miskin, tentulah tidak akan menyebut dirinya sebagai Tuhan.
4. Tersohor di kalangan orang banyak, 
Orang yang dipandang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, pandai berbicara dan berpengetahuan membuat keberadaannya selalu dibutuhkan di dalam masyarakat. Dengan kemampuanya biasanya banyak orang yang mengenalnya. Karena semakin banyak yang mengenalnya, maka dia semakin kagum terhadap dirinya sendiri. Semuanya itu akan memudahkan timbulnya perasaan bangga ke diri sendiri pada hati seseorang.
5. Mempunyai intelektualitas dan kecerdasan yang tinggi, 
Memiliki pengetahuan, dan kecerdasan yang tinggi cendrung berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri dan merasa bangga atas kelebihannya itu lalu kemudian menganggap orang lain itu tidak mampu dan timpul rasa sombong dan ujub. Kondisi seperti itu akan melahirkan sikap otoriter dengan pendapatnya sendiri. Tidak mau bermusyawarah, menganggap bodoh orang-orang yang tak sependapat dengannya, dan melecehkan pendapat orang lain.
6. Memiliki kesempurnaan fisik, 
Kecantikan, tampan, tubuh yang ideal membuat mereka memilih-milih mana yang pantas menjadi teman dan bahkan pasangan hidupnya. Mereka lupa bahwa kesempurnaan tubuh itu milik allah dan mengejek atau mumbully orang-orang yang tidak sesemurna mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang seperti itu telah kemasukan sifat membanggakan diri sendiri.
7. Lalai atau tidak memahami hakikat dirinya sendiri. 
Apabila seseorang lalai atau tidak memahami hakikat bahwa dirinya berasal dari air yang hina serta akan kembali ke dalam tanah, kemudian menjadi bangkai, maka orang seperti ini akan mudah merasa bahwa dirinya hebat. Perasaan seperti ini akan diperkuat oleh bisikan setan yang pada akhirnya akan muncul sifat kagum terhadap diri sendiri.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang muslim agar dirinya terhindar dari penyakit ini, diantaranya adalah :
1. Selalu mengingat akan hakikat diri
2. Selalu sadar akan hakikat dunia dan akherat
3. Selalu mengingat nikmat Tuhan
4. Selalu ingat tentang kematian dan kehidupan setelah mati
5. Tidak berkawan dengan orang yang kagum diri
6. Memperhatikan keadaan orang yang sedang sakit, meninggal, dan ziarah kubur.

7. Selalu bermuhasabah (Introspeksi diri)